Penderitaan Sebagai Pelajaran

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari (bahasa Sansekerta dhra) artinya “menahan atau menanggung”.

Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan sebagainya. Menurut Al Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak menguraikan penderitaan manusia sebagai peringatan bagi manusia.

 

          Dalam riwayat Nabi Muhammad Saw. pun, diceritakan bahwa beliau dilahirkan sebagai anak yatim dan kemudian yatim piatu, yang dibesarkan kakeknya kamudian pamannya. Beliau menggembala kambing, bekerja pada orang dan sebagainya. Bahkan sebagian besar hidupnya mengalami penderitaan yang luar biasa.

 

          Dalam riwayat hidup Budha Gautama, yang dipahatkan dalam bentuk relief pada dinding candi Borobudur kita juga melihat adanya penderitaan. Meskipun berupa relief, hati kita dan haru pada saat melihatnya. Seorang pangeran (Sidarta Gotama) yang meninggalkan istana yang bergemerlapan masuk hutan menjadi bhiksu dan makan dengan cara memperolehnya dari dana orang lain(tidak mencuri), mengembara di hutan untuk melatih diri dan mengembangkan batin.

 

Berikut ini adalah pandangan “pengertiaan penderitaan dari agama Buddha”

          Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan (ketidaksenangan) dan keputusasaan adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan. 

Dengan kata lain Lima kelompok kehidupan (Pancakhandha) yang dipengaruhi kemelekatan adalah penderitaan (dukkha).

 

          Dukha ialah penderitaan. Dukha menjelaskan bahwa ada lima pelekatan kepada dunia yang merupakan penderitaan. Kelima hal itu adalah kelahiran, umur tua, sakit, mati, disatukan dengan yang tidak dikasihi, dan tidak mencapai yang diinginkan.

Penderitaan timbul karena adanya hal yang dirasakan oleh si penderita, berikut ini adalah sebab-sebab si penderita merasakan penderitaan :

Image 

 

 

  1. Siksaan

          Apabila berbicara tentang siksaan, terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mendirikan bulu kuduk kita. Siksaan semacam itu banyak terjadi dan banyak dibaca di berbagai media massa. Bahkan kadang-kadang ditulis di halaman pertama dengan judul huruf besar, dan disertai gambar si korban.

          Siksaan manusia juga menimbulkan kreativitas bagi orang yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan langsung atau tak langsung. Hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan, baik berupa berita, cerpen ataupun novel yang megisahkan siksaan.

          Mungkin kita dapat menyimpulkan siksaan adalah pebuataan yang sangat kejam yag dilakukan oleh seseorang dengan maksud membalas dendam an factor-faktor lainya.

2. Rasa Sakit

          Rasa sakit adalah rasa yang penderita akibat menderita suatu penyakit. Rasa sakit ini dapat menimpa setiap manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tua-muda, berpangkat atau rendahan tak dapat menghindarkan diri darinya. Orang bodoh atau pintar, bahkan dokter sekalipun.

          Penderitaan, rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaian peristiwa yang satu dan lainnya tak dapat dipisahkan merupakan rentetan sebab akibat. Karena siksaan, orang merasa sakit; dan karena merasa sakit, orang menderita. Atau sebaliknya, karena penyakitnya tak sembuh-sembuh, ia merasa tersiksa hidupnya, dan mengalami penderitaan.

3. Neraka

          Berbicara tentang neraka, kita selalu ingat kepada dosa. Juga terbayang dalam ingatan kita, siksaan yang luar biasa, rasa sakit dan penderitaan yang hebat. Jelaslah bahwa antara neraka, siksaan, rasa sakit, dan penderitaan terdapat hubungan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Empat hal itu merupakan rangkaian sebab-akibat.

          Manusia masuk neraka karena dosanya. Oleh karena itu, bila kita berbicara tentang neraka tentu berkaitan dengan dosa. Berbicara tentang dosa juga berbicara tentang kesalahan.
Dalam Al Qur’an banyak ayat yang berisi tentang siksaan di neraka atau ancaman siksaan. Surat-surat itu antara lain surat Al-Fath ayat 6 yang artinya:

Dan supaya mereka menyiksa orang-orang yang munafik laki-laki dan perempuan, oang-orang yang musyik laiki-laki dan perempuan yang mempunyai persangkaan jahat terhadap Allah. Mereka mendapat giliran buruk. Allah memurkai mereka, dan menyediakan neraka Jahanam baginya. Dan neraka Jahanam itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (Q.S. Al-Fath : 6)

         

          This will be brief. Sudah lumayan lama saya merenungi bahwa betapa kita manusia ini selalu dalam posisi yang diuntungkan dalam hidup. Ya diuntungkan. Kita selalu beruntung.

Bagaimana bisa ?

Bukankah ada yang namanya ‘kegagalan’, ‘kemalangan’, ‘penderitaan’ dan istilah lainnya ?

          Sure sure, tentu saja kita mengetahui dan pernah mengalami yang namanya kegagalan, kemalangan, penderitaan, dan hal-hal yang tidak mengenakkan lainnya. We know how it felt and how it affect our life through the impact in our mind, heart, body, or soul. True. Namun belakangan saya mulai menganggap bahwa hal-hal tadi juga merupakan keberuntungan yang dianugerahkan Tuhan pada kita, dalam bentuk yang berbeda dengan apa yang selama ini biasa kita sebut sebagai ‘keberuntungan’.

          Ya, in my opinion, ‘keberuntungan’ yang bersembunyi mengintip dibalik kegagalan, kemalangan, dan penderitaan ini kita bisa sebut sebagai HIKMAH atau PELAJARAN.

          Saya tetap konsisten dengan gagasan bahwa “manusia dibuat mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya DALAM RANGKA membuatnya menjadi makhluk yang LEBIH KUAT dan LEBIH BAIK dari pada sebelumnya”. Hal-hal yang tidak mengenakkan ini meski berasal dari perbuatan manusia sendiri, tetapi Tuhan MEMBIARKANNYA TETAP TERJADI (karena kita tahu bahwa SEMUA terjadi atas SEIZIN-NYA). Karena Tuhan Sang Maha Bijaksana mengetahui lebih baik bahwa, kemalangan yang dialami manusia karena tangannya sendiri akan membuat manusia ini menjadi makhluk yang lebih bijaksana, ketimbang jika dia tidak mengalami kemalangan ini. Jadi meskipun ditimpa kemalangan, manusia ini telah menjadi manusia yang lebih baik dari pada sebelumnya.. Coba, tidakkah manusia itu pada dasarnya selalu beruntung ? Karena kendati pun dia ditimpa kemalangan atau ‘ketidak-beruntungan’, dia sesungguhnya sedang ditumbuhkan menjadi makhluk yang lebih baik dari sebelumnya melalui hal-hal tersebut.

          Namun seperti juga dengan prinsip hukum alam yang universal, bahwa HIDUP ini SEPENUHNYA TANGGUNG JAWAB dari yang MENJALANINYA. ‘Keberuntungan’ ini hanya akan bisa disingkap ketika kita bisa menganggapnya demikian. Dengan kata lain, keberuntungan dibalik kemalangan berupa hikmah pelajaran hanya akan kita lihat dan kita rasakan KETIKA kita MENGALIHKAN FOKUS kita BUKAN kepada betapa malangnya kita, tetapi kepada pertanyaan seperti : “APA HIKMAH-NYA ? APA PELAJARANNYA ? APA YANG BISA SAYA AMBIL DARI PERISTIWA INI AGAR SAYA MENJADI LEBIH BAIK ?” Karena apa yang menjadi fokus kita.. Akan berkembang.. Akan bertumbuh.. Dan seringnya akan menjadi kenyataan.

          Pengalihan fokus, my friends, membutuhkan upaya keras untuk keluar dari kebiasaan merasa menjadi korban, yang cenderung sangat nyaman bagi beberapa orang. Pengalihan fokus memerlukan keberanian total untuk keluar dan melihat hal yang sepenuhnya berbeda dari apa yang nyata-nyata sedang dialami. Pengalihan fokus dilandasi dengan PROAKTIVITAS dan sikap BERTANGGUNG-JAWAB yang besar terhadap kehidupan beserta apapun yang terjadi di dalamnya. Pengalihan fokus melibatkan penggunaan akal sehat sebagai salah satu senjata ampuh yang diberikan Tuhan dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Akal ini juga yang sesungguhnya merupakan bentuk lain dari proaktivitas atau JEMBATAN ANTARA STIMULUS DAN RESPON (bisa cek postingan saya sebelumnya dengan judul ini).

Dan percaya atau tidak.. Al-Qu’ran pun mengatakan hal yang sama :

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmat, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Al-Baqarah : 269)

 

          Kesimpulannya adalah harta yang kita miliki semenjak kita lahir ke dunia. Dan dirasakan oleh berbagai orang dari berbagai kalangan, umur, tingkatan status, dan sebagainya. Jadi bagaimana kita menyikapi penderitan manusia di dunia ini??selayaknya setiap insan selalu melatih diri dalam hal keagamaan dan belajar untuk mengerti kehiidupan.

 

Sumber :

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s