Seperti Apa Wujud Cinta Tanah Air?

Membaca-baca berita di detik com hari ini ternyata ada berita yang cukup menggelitik tentang ajakan Menpora pada Mahasiswa/lulusan luar negeri yang sekarang di luar untuk kembali. Hal yang menarik sekali, namun rasanya kurang etis kalau saya mengomentari ajakan Menpora ini, karena bakalan sangat panjang ceritanya nanti. Tapi dari komentar-komentar pembaca yang masuk, ternyata sangat beragam dan rasanya saya juga harus berkomentar. Oh ya, beritanya bisa dibaca disini.

Wew, sebenarnya ini hal klasik, tp sekarang karena saya di LN juga, berarti saya juga ikut menjadi sasaran. Sebenarnya saya sedih juga, banyak komentar yang nadanya menyudutkan rekan-rekan yang tidak mau kembali ke Indonesia. Bahkan maaf, ada yang menyebut “pengecut yang hanya berani teriak menunggu kondisi negara stabil”. Sangat menyakitkan. Saya rasa, inilah inti dari perbedaan cara pandang : idealisme dan pilihan hidup. Secara idealis, tentunya semua ingin rekan-rekan yang di LN pulang membangun negara yang berantakan ini. Tapi tentu saja timbul pertanyaan, apakah bingkai negara ini mampu menampung orang-orang seperti mereka? Mereka punya ilmu yang lebih dari rata-rata, terbiasa hidup efisien, dengan fasilitas internet cepat, dan tentunya cara pandang mereka bukan lagi seperti saat mereka masih di Indonesia. Dan tentunya sudah menjadi rahasia umum bahwa budaya feodalisme dan seniorisme masih kental di banyak lingkungan kerja (jadi ingat salah satu iklan rokok). Kalau mereka merasa tidak mempunyai ruang untuk berkiprah sesuai bdang dan ilmu mereka, mengapa dipersalahkan kalau mereka tidak mau kembali? Bukankah mereka ingin menjadi yang terbaik di bidangnya, sekaligus mencari nafkah untuk keluarganya? Menyedihkan sekali, bahkan saya juga sangat tersinggung dengan komentar di situs itu. Tapi saya tidak ingin slamming orang disini, hanya ingin bicara pendapat saya karena saya termasuk orang yang dituduh itu.

Memang, idealnya pulang dan berkontribusi untuk negara. Dalam hal ini, saya sangat kagum pada Prof. Yohannes Surya. Beliau yang sudah di Amerika dan kerja dengan fasilitas lebih mau pulang, berkontribusi dengan cara yang tidak biasa, mencari, mendidik, dan mempersiapkan siswa-siswa Indonesia untuk maju ke Olimpiade Fisika. Sebuah langkah yang awalnya sulit dipahami banyak orang, mengingat orang indonesia karakternya suka yang instan. Tapi terbukti, banyak siswa yang bisa merebut medali emas, dan mendapat beasiswa ke luar negeri. Bahkan salah satu alumnusnya adalah Prof Nelson Tansu, si profesor termuda di Lehigh University Amerika. Dan sudah menjadi rahasia umum pula, bahwa Prof Nelson Tansu tetaplah bangga sebagai orang Indonesia, tetap memegang paspor indonesia, dan berupaya berkiprah semaksimal mungkin sesuai bidangnya dan bercita-cita menarik sebanyak mungkin mahasiswa indonesia belajar disana. Apakah karena beliau tidak pulang ke Indonesia bisa dikatakan tidak cinta tanah air atau pengecut tidak mau menghadapi kenyataan. Sungguh, it is a very pathethic comment and opinion.

Saya sendiri juga berpikir kenapa masih banyak yang punya nasionalisme sempit, tidak pulang berarti tidak nasionalis. Rasanya di era internet sekarang bukan lagi masanya jago kandang. Biarlah semua berperan sesuai bidangnya masing-masing. Kalau tidak salah Adam Smith pernah bilang bahwa hasil terbaik akan bisa dicapai kalau setiap anggota grup berbuat yang terbaik (mohon dikoreksi karena saya tidak tahu Adam Smith, I’m an electrical engineer, all I know about Adam Smith is based on “A Beautiful Mind” movie). Dalam sepakbola pun juga ada pembagian peran, ada penyerang, pemain tengah, bek, libero, kiper, manager, pelatih, bahkan ada talent scout yang kerjanya keliling dunia mencari bakat-bakat muda (seperti metodenya Arsenal). Semua terorganisir, semua punya tujuan, meski ruang tidak sama. Apakah mesti semua ngumpul di Emirates Stadium, kandangnya Arsenal? Tentu tidak. Jadi sebaiknya rangkul semua yang ada diluar. Berikan peran meskipun tidak pulang. Saat ini, Cina dan India sudah sangat jauh lebih maju dan mempunyai jaringan kuat disetiap negara. Di Australia pun, banyak sekali Cina dan India. Mereka punya networking yang kuat. Dan itu sangat bermanfaat sekali. Bisa dilihat, betapa majunya India dan Cina saat ini. Mengapa kita sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia tidak meniru langkah mereka padahal kita punya potensi untuk itu dan mampu?

Setiap orang punya pilihan hidup. Bila rekan-rekan yang diluar negeri merasa lebih optimal bekerja diluar negeri tentu itu adalah hal yang harus dihormati. Yah, semoga saya mampu memberikan kontribusi dengan segenap kemampuan saya, apapun, dan dimanapun. I’m just an ordinary people…

Sumber : http://praptonoadhi.wordpress.com/2008/05/09/seperti-apa-wujud-cinta-tanah-air/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s