Realisasi Wujud Cinta Tanah Air

Realisasi Wujud Cinta Tanah Air Dalam perspektif agama, semulia-mulia isi hati manusia ialah‘Al Iman’ (QS.Al Anfal/55). Karena iman itulah yang menjadi pondasi hidup, pegangan hidup, kompas hidup, pelita hidup dan nilai hidup. Adapun cinta tanah air adalah salah satu dari 79 cabang iman (HR Muslim, Abi Dawud, Nasai, Ibnu Majjah. Keterangan dari shohabat Abi Huroiroh). Jadi cinta tanah air itu bagian dari iman, dan iman itu pokok pangkal agama. Bagaimanakah mengaplikasikan cinta tanah air itu ? Didalam kitab Dalilul Falihin karangan Muhammad Ibnu ‘Alan Ash Shiddiqi, yang artinya: “Seyogyanya bagi orang sempurna imannya akan berbuat kemakmuran tanah airnya dengan amal sholeh dan kebajikan.” Menurut ta’lif diatas untuk merealisasikan wujud cinta tanah air adalah dengan cara memakmurkan tanah airnya dengan : (1). Amal sholeh, (2).kebaikan. Dengan cara apa? Banyak hal yang bisa dilakukan untuk itu, seperti: semangat bela Negara, menjaga kelestarian ekosistem alamnya, mencegah hal-hal buruk yang mengganggu tanah airnya, dan yang tak kalah penting ialah menjaga dan melestarikan kesucian Negara Republik Indonesia. Adapun kemulyaan dan kesucian Negara Republik Indonesia telah terpuntal didalam Pancasila dan Pembukaan UUD’45. Pancasila dan UUD’45 adalah mutiara kilau kemilau yang harus dijaga sampai kapanpun sebagai bukti cinta tanah air kita. Usaha Merongrong Pancasila Pada saat ini, memang ada usaha merongrong Pancasila. Dari kelompok yang berhaluan kiri ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara sekuler. Juga adanya bahaya laten yang masih mengancam Pancasila, ialah idiologi marxisme. Sedangkan dari kelompok berhaluan kanan, mereka ingin setback ke masa lalu dengan menambahkan 7 kalimat pada sila pertama: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya.” (Piagam Jakarta sebelum penyempurnaan, yang disusun pada 22 juni 1945). Bahkan ada juga kelompok ekstrem kanan yang ingin mengganti Pancasila dengan ‘azas islam’, dengan system pemerintahan khilafah (dipimpin oleh seorang kholifah). Mereka beralasan, bahwa Negara yang ‘baldatun thoyyibatun warobbun ghofur’ ialah Negara yang meniru persis seperti Negara yang didirikan Rosululloh SAW. Dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rosyidin. Bila Indonesia ingin menjadi Negara thoyyibah maka hanya dengan itulah satu-satunya cara. Menanggapi system pemerintahan khilafah, memang kami pernah mendengar hadits yang berbunyi: “ Sebaik-baik masa adalah masaku dan masa setelahku.” Tetapi bukan berarti kita harus mengikuti symbol-simbolnya seperti system pemerintahannya, adat istiadatnya, surbannya, janggutnya, dsb. Namun nilai-nilai positifnya-lah yang perlu kita ikuti, sebab pada tiga abad pertama islam itu adalah masa-masa kejayaan dan keemasan, yaitu dengan muncul dan berkembangnya peradaban, ilmu pengetahuan, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu qiro’at, ilmu nahwu, shorof, balaghoh, kedokteran, matematika, astronomi, dengan tokoh-tokohnya seperrti Ibnu sina, Al farabi, Al kindi, Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Bukhori, Muslim, dsb. Kalau mau mengikuti maka ikutilah nilai-nilai positifnya kebenaran Abu Bakar, keberanian Umar, kepandaian Ali, bukan symbol-simbolnya. Toh model pemerintahan khilafah tidak menjamin kebaikan negerinya. Buktinya mungkin kita lupa bahwa sepeninggal itu telah terjadi pertumpahan darah berebut kekuasaan dinegeri Madinah. Sedangkan menanggapi pengubahan Pancasila dengan menambahkan 7 kalimat pada sila pertama, atau mengganti Pancasila dengan azas islam, maka secara tidak langsung berkeinginan memecah belah bangsa Indonesia yang beraneka suku dan agama. Justru ini adalah langkah mundur. Kalau difahami betul, sebenarnya sila pertama dalam Pancasila adalah ‘Tauhid’. Sebab yang dimaksud ‘Tuhan’ dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa,ialah Tuhan yang bernama “Alloh”, bukan lainnya. Apa buktinya? Bahwa pengertian dalam sila-sila Pancasila itu dijabarkan / ditafsirkan / dijelaskan didalam pembukaan dan batang tubuh UUD’45. Buktinya, didalam pembukaan UUD’45 alinea 3 berbunyi: “Atas ber-kat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa.” Kemudian didalam batang tubuh UUD’45 / bab III / pasal 9, berbunyi : “Demi Alloh,”. Dari awal sampai akhir UUD’45 tidak menyebut nama Tuhan selain “Alloh”,kalau dialih bahasakan menjadi Laa ilaaha illalloh. Inilah salah satu kesucian dan kemulyaan Pancasila dan Pembukaan UUD’45 yang harus kita amankan. Memang kekhawatiran kita terhadap usaha perongrongan Pancasila ini perlu kita cermati lebih dalam, karena kelompok masyarakat yang satu ini telah mempunyai kendaraan politik yang mulai mendapat simpatik dari masyarakat luas. Maka tak ada salahnya kalau kita lebih meningkatkan kewaspadaan untuk mengamankan Pancasila dan Pembukaan UUD’45. *** Mungkin ada sebagian yang bertanya-tanya : “ Pancasila yang di yakini paling baik dan sempurna telah dijadikan dasar Negara, dan tidak diubah-ubah, tapi mengapa sampai sekarang Negara RI masih compang-camping, masih jauh dari cita-citanya. Kenapa bisa begitu?”. Jawaban atas pertanyaan ini ialah: Pancasila sebagai dasar Negara RI adalah sudah baik dan sempurna, tapi Pancasila tidak bisa praktek sendiri, para penyelenggara Negara dan seluruh lapisan bangsa yang harus mempraktekan Pancasila agar Negara RI bisa mencapai cita-citanya. Kiranya ada sepenggal kalimat didalam UUD’45 yangbanyak dilupakan, yaitu didalampenjelasan UUD’45 / rum II / judul: Pokok-pokok pikiran dalam pembukaan / ayat 4 : “… yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara Negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.” *** Secara obyektif, sebenarnya Pancasila dan Pembukaan UUD’45 itu tidak bisa diubah dan tidak boleh diubah sampai kapanpun dan oleh siapapun. Adapun alasan-alasannya ialah sebagai berikut: Pancasila sebagai dasar Negara, Pancasila juga menjadi falsafah hidup Bangsa Indonesia yang tertanam dalam jiwa Bangsa Indonesia sejak berabad-abad lamanya, Pancasila adalah kepribadian Bangsa Indonesia. Pada pidato amanat presiden yang diberi judul “ Apa sebab Negara RI berdasarkan Pancasila” pada tanggal 24 september 1955 di Surabaya, Presiden Soekarno berkata: “ Aku tidak mencipta Pancasila. Sebab sesuatu dasar Negara ciptaan tidak tahan lama… jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk suatu Negara, jangan bikin sendiri, jangan karang sendiri. Selamilah sedalam-dalamnya lautan dari pada sejarah. Gali sedalam-dalamnya bumi dari pada sejarah… aku menggali lima mutiara yang terbenam didalamnya… aku bukan pencipta Pancasila…aku hanya menggali Pancasila dari pada buminya Bangsa Indonesia sendiri. Aku gali kembali dan aku sembahkan Pancasila ini atas persada Bangsa Indonesia kembali untuk dipakai sebagai dasar dari pada wadah yang harus berisi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat.”dan lagi, pada tanggal 5 juni 1958 dijakarta, dalam pidato bung Karno yang berjudul “ Pancasila membuktikan dapat mempersatukan Bangsa Indonesia.”, beliau menggali lagi bahwa ia bukan pembentuk dan pencipta Pancasila, melainkan sekedar salah seorang penggali daripada Pancasila itu. (Kedua pidato Presiden Soekarno diatas kami nukilkan dari buku “Perjuangan Bangsa Indonesia menegakkan Pancasila dalam masa penjajahan”hal.164, karangan Prof. Mr. A.G. Pringgo digdo). Semoga dapat bermanfaat untuk rakyat indonesia pada umumnya.

Sumber : http://suhanda666.wordpress.com/2010/02/15/realisasi-wujud-cinta-tanah-air/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s